Selasa, 23 Agustus 2011

Peran batik di indonesia

Kamis, 28 Juli 2011 10:50


dok. WomanKapanlagi
Saat memandangi rentangan sehelai Batik Solo, walaupun ada warna putih di atasnya, kesan monokromatik sogan sangat terasa. Kesederhanaan warna inilah yang memicu aura megah, selain motif-motif bermakna filosofis yang menghiasinya.
KapanLagi.com - Apa yang kita ingat tentang Solo? Putri Solo, Sosis Solo, Stasiun Solo Balapan. Itu adalah rentetan jawaban populer yang terkait tentang Solo. Tak banyak orang yang serta-merta menyebut Batik Solo. Padahal, Batik yang dihasilkan para perajin kota Solo sejak berabad-abad lalu merupakan salah satu tonggak Batik Indonesia.

Jika Batik – resist dye proccess - di berbagai belahan dunia adalah cara tertua manusia mengolah tekstil, maka sebenarnya di Solo (seperti halnya di seluruh Jawa) Batik memasuki ranah pemerintahan. Kondisi ini membuat Batik menjadi istimewa karena memiliki peringkat berdasarkan motif. Ada motif-motif tertentu yang hanya dapat dikenakan oleh raja dan kalangan bangsawan, atau hanya dipakai saat perayaan. Hal inilah yang membuat Batik Solo berbeda.

Latar belakang historis dan antropologis ini, menjadi salah satu alasan Solo dipilih sebagai kota ketiga tujuan perjalanan misi pelestarian Batik yang dilakukan bersama oleh Attack Batik Cleaner dan Edward Hutabarat. Misi pelestarian Batik ;Cintaku Pada Batik Takkan Pernah Pudar', yang ditetapkan sejak 1 Oktober 2010, dalam rangka pengenalan Attack Batik Cleaner dan peringatan Hari Batik, sebelumnya telah mengunjungi Pekalongan (Desember 2010) dan Madura (April 2011).

Idealisme yang saling bersahutan


xxxxxxx



Misi ini mengemban tujuan memperkenalkan Batik pada umumnya, tidak hanya dari sisi produksi dan ekonomisnya semata. Hal ini berulang-ulang ditegaskan oleh Edward Hutabarat, yang mengatakan bahwa “Batik harus dipahami dari akarnya. Hanya dengan cara mengalami; melihat, merasakan secara langsung, kita bisa menghargai value sehelai Batik. Ada banyak sisi yang bisa dibicarakan tentang Batik. Tidak semata-mata karena pengakuan sebuah lembaga internasional, lalu kita berlomba-lomba mengulas Batik. Tetapi semestinya kita menghargai Batik karena tahu proses, menghayati denyut kehidupan di sekitarnya yang sering terabaikan.”

Selaras dengan konsep Edward Hutabarat, fashion designer yang telah 30 tahun berkarya, PT Kao Indonesia melakukan inovasi khusus dengan team Research & Development yang berpusat di Jepang untuk memahami kebutuhan lokal, dan dari situlah diluncurkan Attack Batik Cleaner. Pembersih Batik yang terbuat dari bahan alami sehingga membuat cucian Batik tidak pudar warnanya. Diana L. Laksmono, perwakilan Attack Batik Cleaner sejak peluncuran produk tersebut pada bulan Oktober 2010, menyampaikan pesan bahwa “Prinsip KAO sebagai pemilik brand Attack adalah peka terhadap kebutuhan konsumen akan Batik. Sebagai pembuat deterjen, kami menemukan ada kebutuhan yang belum terpenuhi dalam hal mencuci Batik. Attack Batik Cleaner mencuci secara lembut dan halus, tidak membuat warna Batik menjadi pudar dan wangi nya pun segar alami. Mencuci Batik menjadi lebih praktis dan modern. Keunggulan produk inilah yang kami utamakan untuk dapat selalu memberikan yang terbaik untuk konsumen pencinta Batik di tanah air.”

Profesionalisme dalam tradisi

Di kota Solo dikenal dua kampung Batik yang besar, Kampung Laweyan dan Kampung Kauman. Keduanya memiliki keunikan berdasarkan sejarah, dan Attack Batik Cleaner sangat beruntung bisa menjumpai para Mpu dari kedua kampung itu. Bp. Saud Efendi dari Kampung Laweyan dan Bp. Gunawan Setiawan dari Kampung Kauman. Keduanya merupakan relasi Edward Hutabarat, yang telah bertahun-tahun bekerja sama dengan mereka.

Kampung Laweyan diperkenalkan oleh Bp Saud Effendi sebagai kampung yang berkembang karena industri Batik, dan dimotori para saudagar Batik pribumi yang dikenal dengan sebutan Gal Gendhu. Masa kejayaan para Gal Gendhu itu terlihat jelas dari arsitektur bangunan rumah mereka yang luas, megah dan berbenteng tinggi. Para Gal Gendhu dari Laweyan inilah yang merupakan cikal bakal sebuah organisasi perdagangan yang didirikan pada tahun 1912 dan dikenal sebagai Syarekat Dagang Islam.

“Kami membuat Batik tulis dengan pakem-pakem tradisional khas Solo, Batik cap dengan modifikasi warna dan teknik smocked (kerut) untuk mendapatkan kesan kontemporer yang lebih segar, dan jenis Batik painting (lukisan Batik) yang merupakan penyaluran jiwa seni saya,” ungkap Bp. Saud alumnus STISI yang juga pernah berkecimpung di jagad perfilman Indonesia.

Selanjutnya Bp Saud menyatakan bahwa di Laweyan perajin Batik memiliki organisasi yang dapat membantu pengadaan materi Batik. Sekalipun demikian, beliau mengakui karena tingginya kebutuhan pasar, seringkali ada saja yang kurang. “Bahan pewarna alam dan pembersih Batik mulai agak sulit dicari. Kehadiran Attack Batik Cleaner yang ingridients-nya terbuat dari bahan alami, tentu merupakan kabar baik bagi kami yang bergerak di industri Batik,” ujar Pak Saud dengan nada lega.

Sedikit berbeda dibandingkan kisah Laweyan, Kampung Kauman memiliki hubungan yang dekat dengan Keraton Solo. Perajin di Kampung Kauman secara khusus membuat Batik untuk kebutuhan Keraton Kasunanan Surakarta. “Jarik atau kain yang digunakan oleh raja dan kaum bangsawan Keraton adalah bagian dari simbol dan citra mereka. Tentu saja pembuatannya hanya diserahkan pada orang-orang kepercayaan yang pada saat itu menetap di wilayah Kauman ini,” demikian ungkap Bp Gunawan Setiawan.

Gunawan kemudian mengatakan bahwa hal penting yang harusnya diperhatikan pemilik kain Batik adalah perawatannya. “Malam yang digunakan untuk membatik itu mengandung campuran lemak hewani. Hal inilah yang menyebabkan pemeliharaan kain Batik, yaitu proses pencucian harus dilakukan dengan baik. Batik yang disimpan di dalam lemari, harus benar-benar bersih dari malam, karena jika tidak akan mengundang ngengat. Kain yang belum bersih dari malam, adalah makanan mewah bagi ngengat. Saya telah mencoba Attack Batik Cleaner beberapa saat lalu, dan hasilnya memang bersih. Bisa mengangkat malam Batik yang masih tersisa,” demikian penjelasan Pak Gunawan yang hingga kini masih melakukan berbagai eksperimen yang berhubungan dengan malam Batik.

Di luar kedua wilayah tersebut, masih ada seorang maestro Batik Solo yang dikunjungi Attack Batik Cleaner, Ibu Siti Sendari. Saat ini beliau selain dikenal sebagai penghasil Batik bermotif pakem untuk digunakan di acara-acara tradisional seperti pernikahan, juga karena sentuhan warna pada motif-motif pakem Batik Solo. Sedikit berbeda dibandingkan warna non soga yang dilakukan dua maestro di Laweyan dan Kauman, warna racikan Ibu Sendari memberikan sensasi feminin di atas warna sogan yang solid. Lila, ungu muda, pink, oranye dan biru seakan “tersenyum” genit menarik perhatian.

“Saya memperhatikan nenek bekerja dulu saat masih kecil. Saya tertarik pada proses beliau membatik tulis, mencampurkan warna. Hal ini kemudian saya tekuni, dan dalam perjalanan pekerjaan saya terdorong untuk selalu mencoba hal baru, agar Batik bisa tampil hip, nge-trend. Setelah saya trial and error, akhirnya saya menemukan. Tidak mengubah motif, melainkan memadukan satu motif dengan motif lain, dan memberikan sentuhan warna khas saya sebagai perempuan,” ungkap Ibu Sendari yang saat ini boleh berlega hati, bahwa di antara ke-12 cucunya ada seorang Mutia (12 tahun) yang sangat tertarik dan sehari-hari selalu bersenang hati membantunya bekerja di workshop mencoba berbagai campuran warna.

Garis merah yang sama terlihat pada ketiga maestro itu. Mereka tidak sekadar bekerja sebagai produsen Batik, mendapatkan keberuntungan finansial dari maraknya Batik sebagai salah satu kekayaan bangsa yang diakui secara internasional. Sebaliknya mereka memiliki misi pribadi, mengembangkan Batik sebagai warisan yang perlu dipertahankan eksistensinya sesuai jaman.


xxxxxxx



Batik, perekat elemen sosial

Sebagai sebuah wilayah yang pada masa kejayaannya berbentuk kasunanan, yang diperintah oleh para pangeran, maka kehidupan masyarakat Surakarta – sebutan lengkap Solo – sangat keraton sentris. Kebiasaan keraton terpola jelas, dan salah satunya adalah penggunaan jarik Batik sebagai pakaian sehari-hari.

Pemenuhan kebutuhan Batik inilah yang kemudian menggerakkan roda perekonomian dan sosial. Tidak hanya untuk kebutuhan keraton, Batik dengan motif saudagaran, dibuat oleh para perajin Batik di luar Kampung Kauman untuk masyarakat umum. Para perajin Batik itu bekerja antara 8-10 jam per hari. Ketika terasa letih, bukan pil atau larutan suplemen yang mereka cari. Sebaliknya, mereka memiliki ramuan herbal yang dikenal sebagai jamu. Untuk kalangan istana dan pekerja istana, jamu yang didapat berasal dari kawasan Baluwarti, Tamtaman. Semula jamu dipasarkan oleh para penjual jamu gendongan, namun saat ini telah diproduksi dalam bentuk botolan, dan hanya perlu dicampurkan dengan sedikit air, sehingga sangat praktis digunakan.

Sebagai bagian dari tradisi, Batik juga tampil dalam banyak karya seni, seperti; lukisan, tarian, dan yang sangat khas dari Solo adalah Wayang Orang. Kelompok Wayang Orang Sriwedari di Solo dikenal konsisten manggung setiap hari – kecuali hari raya keagamaan, Islam dan hari Minggu – sejak tahun 60-an. Setiap kali tampil, para wayang mengenakan Batik sesuai perannya. “Ketika inilah, sebenarnya seorang rakyat biasa terkecuali saat manten (menikah) bisa menggunakan jarik Batik dengan motif yang biasanya hanya untuk dikenakan oleh raja dan bangsawan,” ujar KRT. Diwasa Diranagara S.Sn yang menjadi kepala Dinas Pariwisata Solo, yang juga berperan sebagai penanggung jawab Wayang Orang Sriwedari dan sutradara pertunjukan.

Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan dedikasi setiap tokoh yang terlibat dalam seluruh siklus Batik ini, kecuali dedikasi. Hal yang dilakukan karena kecintaan dan pemahaman mereka tentang Batik sebagai warisan nenek moyang. (wo/prl/bee)

Dilihat sebanyak 238 kali
My faceboo;http://www.facebook.com/

Senin, 22 Agustus 2011

Batik di PEKALONGAN

Batik pekalongan mempunyai ciri khusus, yaitu terdapat banyak pilihan warna (kaya warna) sebagaimana ciri khas dari batik pesisir pada umumnya. Perbedaan Batik pekalongan dengan batik kota lainnya terletak pada ragam hias / motifnya yang cenderung berkonsep naturalis. Motif – motif disini sangat dipengaruhi oleh pendatang keturunan Cina dan Belanda.

Motif batik pekalongan mempunyai pola yang abstrak dan bebas meskipun motifnya terkadang senada dengan batik Solo & Yogyakarta, yang biasanya dimodifikasi dengan variasi warna yang menarik untuk semua kalangan, baik anak – anak, remaja, dewasa sampai untuk lansia semua ditawarkan dengan kemasan yang menarik. Untuk urusan warna batik Pekalongan dapat dikategorikan sangat berani, tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai sampai dengan 8 warna yang sangat berani dengan kombinasi yang sangat dinamis. Motif yang paling populer di dan terkenal dari pekalongan adalah motif batik Jlamprang.

Keistimewaan batik pekalongan lainnya adalah para pembatiknya sangat kreatif mengikuti perkembangan jaman. Maka tidak heran kejadian – kejadian ter uptudate dituangkan para pembatik dalam tuangan – tuangan motif batik pada canting pembatik. Sebagai contoh pada era penjajahan Jepang, lahir batik dengan nama’Batik Jawa Hokokai’,yaitu batik dengan motif dan warna yang mirip kimono Jepang, pada era enam puluhan lahir batik “tritura”, tahun 2005 pada waktu SBY dilantik presiden turut serta lahir batik “SBY”& untuk mengenang bencana Tsunami di Aceh maka dari tangan - tangan terampil pembatik lahirlah motif “Tsunami”. Dan karya – karya kedepan juga diorientasikan terhadap penomena – penomena ter uptudate di lingkungan masyarakat, guna menarik pangsa pasar sekaligus tetap melestarikan warisan budaya batik sebagai warisan budaya. Apalagi sudah diakui dan disyahkan / diakui oleh Dunia (UNESCO) bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia dan juga merupakan warisan budaya Dunia.
Dengan semangat diatas para pembatik di Pekalongan di tuntut untuk bekerja keras & terus mengembangkan kreatifitasnya demi kelestarian batik sebagai warisan budaya kita semua. Buah dari hasil kerja keras tersebut sudah terbukti batik Pekalongan mendapat tempat yang khusus di hati para penggemar batik. Pangsa pasar batik Pekalongan selain pulau Jawa juga sudah merambah di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Minahasa, hingga Makassar. Biasanya pedagang batik di daerah ini memesan motif yang sesuai dengan selera dan adat daerah masing-masing. Paradigma seperti ini sangatlah relevan dengan ungkapan “PEKALONGAN KOTA BATIK”. Majulah Pekalongan dengan “mengawal” kelestarian warisan budaya Nusantara & Dunia yang adhiluhung ini.


Informasi lebih lanjut:http://id.shvoong.com/humanities/history/2059285-batik-pekalongan/

Sejarah Batik

  • Sejarah Batik di Indonesia
       Sejarah pembatikan di Indonesia berkait erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta.

        Jadi kesenian batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerjaan Majapahit dan terus berkembang kepada kerajaan dan raja-raja berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah perang dunia kesatu habis atau sekitar tahun 1920. Adapun kaitan dengan penyebaran ajaran Islam. Banyak daerah-daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah-daerah santri dan kemudian Batik menjadi alat perjaungan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedangan Muslim melawan perekonomian Belanda.

        Kesenian batik adalah kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluaga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

        Lama-lama kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga kraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria. Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

        Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanahlumpur.

        Jaman MajapahitBatik yang telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majahit, pat ditelusuri di daerah Mojokerto dan Tulung Agung. Mojoketo adalah daerah yang erat hubungannya dengan kerajaan Majapahit semasa dahulu dan asal nama Majokerto ada hubungannya dengan Majapahit. Kaitannya dengan perkembangan batik asal Majapahit berkembang di Tulung Agung adalah riwayat perkembangan pembatikan didaerah ini, dapat digali dari peninggalan di zaman kerajaan Majapahit. Pada waktu itu daerah Tulungagung yang sebagian terdiri dari rawa-rawa dalam sejarah terkenal dengan nama daerah Bonorowo, yang pada saat bekembangnya Majapahit daerah itu dikuasai oleh seorang yang benama Adipati Kalang, dan tidak mau tunduk kepada kerajaan Majapahit.

        Diceritakan bahwa dalam aksi polisionil yang dilancarkan oleh Majapahati, Adipati Kalang tewas dalam pertempuran yang konon dikabarkan disekitar desa yang sekarang bernama Kalangbret. Demikianlah maka petugas-petugas tentara dan keluara kerajaan Majapahit yang menetap dan tinggal diwilayah Bonorowo atau yang sekarang bernama Tulungagung antara lain juga membawa kesenian membuat batik asli.

  • Sejarah Batik Pekalongan
       Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.

       Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.

       Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.

       Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.

  • Batik Pekalongan, antara Masa Lampau dan Kini
       BATIK pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik pekalongan dikerjakan di rumah-rumah.

       Akibatnya, batik pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Batik pekalongan adalah napas kehidupan sehari-sehari warga Pekalongan. Ia menghidupi dan dihidupi warga Pekalongan.

       Meskipun demikian, sama dengan usaha kecil dan menengah lainnya di Indonesia, usaha batik pekalongan kini tengah menghadapi masa transisi. Perkembangan dunia yang semakin kompleks dan munculnya negara pesaing baru, seperti Vietnam, menantang industri batik pekalongan untuk segera mentransformasikan dirinya ke arah yang lebih modern.

       Gagal melewati masa transisi ini, batik pekalongan mungkin hanya akan dikenang generasi mendatang lewat buku sejarah.

       Ketika itu, pola kerja tukang batik masih sangat dipengaruhi siklus pertanian. Saat berlangsung masa tanam atau masa panen padi, mereka sepenuhnya bekerja di sawah. Namun, di antara masa tanam dan masa panen, mereka bekerja sepenuhnya sebagai tukang batik.

       ZAMAN telah berubah. Pekerja batik di Pekalongan kini tidak lagi didominasi petani. Mereka kebanyakan berasal dari kalangan muda setempat yang ingin mencari nafkah. Hidup mereka mungkin sepenuhnya bergantung pada pekerjaan membatik.

       Apa yang dihadapi industri batik pekalongan saat ini mungkin adalah sama dengan persoalan yang dihadapi industri lainnya di Indonesia, terutama yang berbasis pada pengusaha kecil dan menengah.

       Persoalan itu, antara lain, berupa menurunnya daya saing yang ditunjukkan dengan harga jual produk yang lebih tinggi dibanding harga jual produk sejenis yang dihasilkan negara lain. Padahal, kualitas produk yang dihasikan negara pesaing lebih baik dibanding produk pengusaha Indonesia.

       Penyebab persoalan ini bermacam-macam, mulai dari rendahnya produktivitas dan keterampilan pekerja, kurangnya inisiatif pengusaha untuk melakukan inovasi produk, hingga usangnya peralatan mesin pendukung proses produksi.

Memburu motif batik

Sejumlah pekerja sedang menyelesaikan proses mencanting batik tulis, Rabu (10/8/2011) di Sanggar Batik Semarang 16.
SEMARANG, KOMPAS.com - Semarang ternyata memiliki kesejarahan kuat dalam perbatikan. Bukan sekadar karena batik mengalami booming saja. Setidaknya, berdasar penelitian sejarawan Universitas Diponegoro Dewi Juliati, penanda bahwa Semarang memiliki batik bisa dilihat dari adanya kampung kuno, bernama Kampung Batik.
"Hasil penelitian saya menunjukkan, Kampung Batik memang dulu menjadi pusat produksi batik sejak jaman kerajaan. Namun tradisi membatik itu hilang bersama pembumihangusan sentra ekonomi Semarang oleh Jepang," kata Dewi.
Batik Semarang sempat mengalami pasang surut hingga munculnya Sanggar Batik Semarang 16 di tahun 2004. Sanggar ini selain memproduksi batik dengan motif karya sendiri, juga menggelar serangkaian pelatihan di masyarakat maupun sekolah-sekolah.
Menurut Umi S Adisusilo, pendiri sanggar ini, upayanya itu dimaksudkan untuk lebih membumikan tradisi membatik di tingkat warga masyarakat. Dari berbagai pelatihan maupun menyediakan instruktur itulah, pemerintah berhasil menghidupkan kampung Batik.
"Setelah enam tahun, kini kami telah memiliki tempat yang cukup komprehensif. Bukan saja untuk pelatihan dan produksi, namun juga bisa menjadi obyek wisata budaya bagi umum," kata Umi.
Sanggar baru Batik Semarang 16 itu sekarang menempati areal seluas kira-kira 3000 meter persegi. Dalam areal itu, dibangun beberapa unit bangunan, misalnya galeri sebagai ruang pamer, unit mencanting, unit pewarnaan, hingga sebuah joglo yang mengapung di tengah kolam untuk menggelar diskusi atau pertunjukkan seni yang tak butuh tempat luas.
"Konsep saya ke depan, sanggar ini bisa menjadi referensi bagi yang ingin belajar batik. Lebih jauh lagi, saya berharap bisa menjadi museum batik meski skala mikro," tandas Umi.
Tradisi Riset
Apa yang menyebabkan Sanggar Batik Semarang 16 ini bisa lebih maju dibanding perajin lain? Yang pasti, pada era 2000-an memang Sanggar ini satu-satunya yang konsen dan konsisten diproduksi sehingga menjadi pionir perbatikan Semarang mutakhir.
Berikutnya adalah adanya tradisi riset, baik dalam menciptakan motif, mengkomposisikan warna, maupun membuat inovasi rancang busana dan terus mencari ciri Batik bergaya Semarang.
Umi S Adisusilo menjelaskan, sejak awal berdiri sudah melibatkan akademisi, ilmuwan, dan kalangan budayawan untuk mencipta motif, memilih warna dan mempelajari selera publik sebelum melepas produk. "Arsitek semacam bu Widya Wijayanti, sejarawan seperti bu Dewi Yuliati dan masih banyak lagi nama yang terlibat," kata Umi.
Peran orang-orang yang lekat dengan penelitian itulah yang dipertahankan hingga kini. Meski tak lagi terlibat secara aktif, namun tradisi riset itu diturunkan kepada tim muda Sanggar Batik Semarang 16.
Dampaknya, sanggar ini begitu produktif dalam melepas motif yang tematik. Setiap tahun, sanggar ini melepas motif berdasarkan tema. Mulai dari tema ikon kota, kuliner, legenda, folklore, adat kebiasaan, hingga permainan tradisional yang pernah hidup maupun masih hidup di Semarang.
"Sampai tahun ini, kami sudah memiliki lebih dari 800 motif yang semuanya sudah didaftarkan hak ciptanya atau terdaftar HAKI," kata Umi.
Erna Sulistyowati, manajer operasional Sanggar Batik Semarang 16 sekarang, menjelaskan tradisi riset itu telah menjadi ruh bagi mati hidupnya sanggar. "Para desainer motif dan juga bagian pewarnaan kami disyaratkan harus terus belajar," kata Erna.
Riset seperti apa yang dikembangkan sanggar ini? Untuk mencipta motif, biasanya para desainer mempelajari terlebih dulu hal-hal yang sesuai tema. Misalnya tentang legenda kampung-kampung di Semarang. Kemudian mereka mencari sejarah munculnya legenda kampung tersebut.
"Dari situ dituangkan menjadi gambar kasar kemudian distilisasi dan jadilah motif," kata Chatarina, salah satu desainer motif.
Hasil motif itu kemudian dibawa ke rapat besar, untuk mendapatkan masukan ataupun evaluasi. Baru kemudian diproduksi. Menurut Erna, tak jarang motif yang sudah jadi harus batal diproduksi karena tak mendapat persetujuan dari tim.
Berbekal tradisi riset itu, Sanggar Batik Semarang 16 berupaya terus mencari dan mencipta motif yang khas Semarang. "Bahasa kerennya, berburu motif yang memiliki rasa Semarang," kata Umi.

BukuBatik: pengaruh zaman dan lingkungan

Istilah dan frasa umum

Informasi bibliografi

BakoelBatik.com | Sackdress | Kemeja Wanita | Batik Sarimbit | Batik ..

BakoelBatik.com

‘a traditional state of the art in the global world’

Berawal dari keinginan untuk melestarikan budaya Indonesia, Bakoel Batik menghadirkan koleksi batik untuk pria dan wanita dengan harga terjangkau.

- BakoelBatik.com libur dari tanggal 25 Agustus - 9 September 2011 -


Sackdress Lengan Pendek (SD PD 102)


Sackdress Lengan Pendek
Kode : SD PD 102
Model Busana : kerah segitiga, kerutan di punggung
Ukuran : L, M
Warna : Hijau kombinasi
Bahan : Katun
Harga : Rp. 80.000

Batik Sarimbit (BS 49)


Batik Sarimbit
Kode : BS 49
Ukuran Pria-Wanita : L-L, M-M
Model Busana Wanita : sackdress model balon, ikat pinggang
Warna : Merah kombinasi
Bahan : Katun
Harga : Rp. 160.000

Batik Sarimbit (BS 48)


Batik Sarimbit
Kode : BS 48
Ukuran Pria-Wanita : L-L, M-M
Model Busana Wanita : sackdress model balon, ikat pinggang
Warna : Biru kombinasi
Bahan : Katun
Harga : Rp. 160.000

Sackdress Lengan Pendek (SD PD 105)


Sackdress Lengan Pendek
Kode : SD PD 105
Model Busana : kerah segitiga, kerutan di punggung
Ukuran : L, M
Warna : Biru kombinasi
Bahan : Katun
Harga : Rp. 80.000

Sackdress Lengan Pendek (SD PD 104)


Sackdress Lengan Pendek
Kode : SD PD 104
Model Busana : kerah segitiga, kerutan di punggung
Ukuran : XL, L
Warna : Ungu kombinasi
Bahan : Katun
Harga : Rp. 80.000

Sackdress Lengan Pendek (SD PD 103)


Sackdress Lengan Pendek
Kode : SD PD 103
Model Busana : kerah segitiga, kerutan di punggung
Ukuran : XL, L
Warna : Merah kombinasi
Bahan : Katun
Harga : Rp. 80.000

Sackdress Lengan Pendek (SD PD 101)


Sackdress Lengan Pendek
Kode : SD PD 101
Model Busana : kerah segitiga, kerutan di punggung
Ukuran : L, M
Warna : Oranye kombinasi
Bahan : Katun
Harga : Rp. 80.000
buy:mau beli datang ke website http://bakoelbatik.com/